Monday, May 15, 2017

Selamat Jalan Ayah, We'll miss you

my family
Hari ini lagi pengin nulis yang sedih-sedih. Kalau ingat air mata ngga berhenti mengalir. Rasanya masih ngga nyangka dan belum bisa menerima kalau Ayah saya sudah meninggal. Sungguh masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini, rasanya begitu sesak.

Ini adalah kali ketiga aku kehilangan orang yang aku sayangi di dalam dihidupku. Yang pertama dulu adalah kakekku, Beliau meninggal saat aku kelas 1 SMA karena komplikasi. Sedih sudah pasti, menangis iya. Apalagi kami tinggal bersama, beliau lah yang merawatku dari kecil bersama nenek, disaat Ibuku bekerja. Hati merasa amat sangat kehilangan.

Yang kedua adalah nenek dari suami saya. Kami tinggal bersama dalam satu rumah bersama Ibu suami saya, juga adik, suami dan anaknya. Ramai banget ya dalam satu rumah ada 6 orang dewasa dan satu anak kecil, waktu itu Rumaisha belum ada. Nenek meskipun sudah tua tapi nampak sehat, meskipun begitu tetap saja ada sakit yang menghampirinya. Meskipun kami tinggal bersama baru sebentar, tapi rasa kehilangan tetap saja ada.

Dan yang ketiga adalah Ayah saya. Baru hari rabu kemarin 10 Mei 2017 beliau meninggalkan kami. Meski beliau bukan ayah kandung saya, tapi saya sudah menganggapnya sebagai ayah kandung saya dan adik saya. Ayah pun demikian, sangat menyayangi kami tanpa menghiraukan kalau kami bukan anak kandungnya. Apa saja beliau berikan untuk kami.

Ibu saya mengenalnya sejak saya masih kuliah S1, dan beliau lah yang membantu membiayai kuliah saya. Ayah telah menolong Ibu, saya dan adik saya keluar dari kekelaman hidup, saya dari keluarga broken home. Kalau diceritain bisa panjang lebar malah jadi luas. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang ayah angkat saya, kalau disebut ayah tiri rasanya agak gimana gitu ya.
 
Ayah dan Ibu saya menikah siri tahun 2013 lalu, dan baru bisa diresmikan tahun 2016 kemarin karena beda negara jadi banyak yang harus diurus, belum lagi akta cerai dari ayah kandung saya yang lamanya bukan main.

Ayah memang sudah sakit lama, apalagi sakitnya adalah sakit jantung. Bisa bertahan begitu lama juga sudah merupakan keajaiban. Dulu ayah perokok berat, rokok adalah kebutuhan primernya, makan baru sekundernya. Aduh kebalik ya. Yah begitulah masa muda ayah saya. Tapi sejak bertemu Ibu saya, Ibu mulai menasihati dan melarang ayah untuk merokok. Alhamdulillah ayah sudah berhenti merokok meskipun sudah terlambat karena sudah sakit baru berhenti. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Saya sendiri bertemu ayah cuma beberapa kali, 3 atau empat kali ketika ayah datang ke Indonesia. Tapi saat ayah datang tahun kemarin saya ngga bisa datang menemuinya karena saya baru saja melahirkan, dan meskipun ayah ingin ikut menjenguk saya tapi kakinya bengkak jadi ngga bisa bertemu.

Dan saya ngga menyangka kalau itu adalah kesempatan untuk bertemu terakhir kalinya. Dan saya mulai menyesal kenapa saat itu tidak menemui ayah. Ayah juga belum bertemu dengan Rumaisha, hanya bisa menyapa lewat video call. Ayah juga sayang banget sama Rumaisha. Seneng banget kalau lagi pas video call, ayah suka niruin polah rumaisha. Kalau inget, saya mau nangis.

kolase setiap vcall
Padahal sehari sebelum ayah meninggal, ayah itu video call sama Rumaisha lama banget. Rumaisha juga ketawa-ketawa, dan saya juga ngga menyangka kalau itu adalah video call terakhir dengan beliau. Biasanya kalau pas video call saya suka screenshoot tapi kemarin malah ngga. Nyesel banget rasanya.

Setiap ingat atau melihat foto beliau, saya masih ngga percaya kalau beliau sudah ngga bersama kami lagi. Sedih sudah pasti, kehilangan apalagi, nangis sudah jelas. Tanpa ayah, saya tidak akan seperti sekarang ini. Karena beliaulah yang membiayai kuliah saya sampai selesai. Dan karena kuliah juga saya bisa bertemu suami saya, kalau ngga pasti berbeda yang saya alami.

Perasaan menyesal masih terus ada sampai sekarang, karena saya belum melakukan apa pun untuk ayah saya. Belum memberikan apa pun sebagai balasan meskipun beliau tidak pernah meminta. 

Ayah you are my hero
and I will always remember you
you always remain in our heart





2 comments:

  1. Emotions really don’t need any language, they are explained by expressions and images. In this post a different language is used but still that would be the least of it.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, thank you very much.... Ah when i remember him, i always cry...

      Delete