Thursday, November 9, 2017

Selamat Jalan Budhe, We'll Miss You

Budhe saat di Gembira Loka Zoo, meskipun ini sudah lama sekaliiii

Rasanya baru kemarin kami kehilangan sosok seorang Ayah, kini kami harus kehilangan lagi sosok seorang Ibu, yaitu Budhe kami. Tapi kenapa Ibu? Karena sejak saya dan adk saya kecil, budhe lah yang merawat kami, membesarkan kami, sedangkan Ibu kandung kami sendiri pergi bekerja ke negeri seberang. Keluarga kami dulu tidaklah seperti sekarang yang berkecukupan.
Budhe meninggal karena sakit, komplikasi. Ada sakit jantung, liver, ginjal, hipertensi dan diabetes. Beliau sakit sudah cukup lama hampir setahun sejak awal tahun 2017 . Budhe memiliki badan yang kurus, bahkan bisa dikatakan badan hanya tinggal tulang dan kulit, namun karena sakit ini badan beliau menjadi gemuk sekali, karena kekurangan albumin / protein darah sehingga banyak air yang tidak terikat mengakibatkan pembengkakak pada perut, kaki, dan hampir seluruh badan. 
Awalnya hanya kaki yang bengkak, namun beliau kurang terlalu peduli atau memperhatikan, sedangkan kami tak ada hentinya mengajak beliau untuk periksa ke dokter. Tapi beliau lebih mengurusi matanya yang sudah susah untuk melihat karena efek samping dari penyakit diabetes nya. Padahal sudah saya bilang, itu efek samping dari diabet makanya penglihatan berkurang, tapi beliau tidak terlalu menggubris. Saya tahu karena Budhe saya sangat ingin bisa melihat dengan jelas lagi. Dua kali pergi ke dokter spesialis mata tanpa hasil yang signifikan. Dan kaki beliau masih tetap bengkak.
Beberapa bulan kemudian perut budhe terasa tak enak, dan beliau pun minta dipijat. Meskipun kami sudah melarangnya, tapi kata andalannya keluar "Saya yang lebih tau karena saya yang merasakan". Kami pun mengalah, menurut saja, akhirnya dipanggillah tukang pijat itu. Dan beberapa setelah pijat perut Budhe malah makin membesar dan mengeras. Akhirnya Budhe pun menyesal kenapa waktu itu dipijat.

Budhe saat di Rekam Jantung

Saat Rekam JAntung di Rumah Sakit


Sakit Budhe mulai memasuki puncaknya setelah Lebarang Idul Fitri kemarin. Budhe semakin susah berjalan karena kakinya yang semakin membesar dan kaku. Sungguh Saya pun heran bagaimana bisa tubuh manusia bisa sekeras itu, seperti papan. Namun jika ditekan akan meninggalkan bekas, kempot untuk beberapa waktu sebelum kembali seperti semula. 

Kami sudah pergi ke dokter mana saja, mencoba pengobatan dari modern sampai alternatif. Namun tidak ada yang menunjukkan perubahan yang signifikan. Bahkan diagnosis beberapa dokter pun berbeda, meski sudah melakukan rontgen dan usg. Tapi ada pendapat yang berbeda mengenai hasil rontgen dan usg tersebut. 

Kenapa tidak di rawat di Rumah Sakit saja? Supaya mendapat perawatan yang intensif? Budhe tidak mau di rawat di Rumah sakit karena beliau tidak mau merepotkan orang lain, karena beliau merasa masih bisa berjalan sendiri sehingga tidak perlu di rawat inap. Namun pertengan bulan Oktober kemarin, Budhe akhirnya mau di rawat di Rumah Sakit. Mungkin karena desakan dari kami dan Padhe (Kakak dari Budhe) juga Ibu kami, adik dari Budhe. Dan mungkin juga karena Beliau sudah merasa badannya semakin tak karuan, Budhe sangat ingin bisa sembuh, sangat ingin bisa kembali sehat seperti semula. 

Budhe pun di rawat di RSUD terdekat selama 6 hari. Selama di Rumah Sakit dokter meminta Budhe untuk tidak turun dari tempat tidur supaya darahnya tidak naik lagi. Saat mau di opname darah budhe mencapai 200, Budhe pun mau menurut meskipun awalnya ngeyel. Hingga saat Budhe pulang darah beliau sudah turun menjadi 140.

Selama di Rumah Sakit nafsu makan Budhe amat sangat baik, bahkan bisa dikatakan beliau makan lahap dan banyak. Sebelumnya Budhe menghindari banyak sekali makanan seperti ayam potong, kacang-kacangan, gula, dll. Dan saat di Rumah sakit saya bilang kalau makanan dari Rumah sakit itu sudah disesuaikan dengan keadaan pasien, jadi dimakan saja semua, biar cepat sembuh. Beliau menurut dan semua makanan dari Rumah sakit beliau makan.

Tapi entah kenapa setelah pulang dari Rumah sakit, Budhe semakin tidak bisa melakukan apa pun. Bahkan untuk bangun dari duduk pun dari di bantu. Padahal sebelum opname, beliau masih bisa masak di dapur bersama saya, masih bisa sholat dengan duduk di kursi, masih bisa mandi sendiri dan pergi ke kamar mandi sendiri, tapi semenjak dari Rumah sakit, beliau sudah tidak bisa sholat sambil duduk lagi, mandi pun harus di mandiin, bahkan untuk ke kamar mandi pun tak mampu, akhirnya beliau menggunakan popok. 

Dua hari sebelum beliau meninggal, beliau tidak nafsu makan, dan wajah beliau terlihat lusuh, pucat dan tidak bercahaya padahal biasanya meskipun sakit wajah Budhe tetap terlihat segar. Hari ini Senin, 30 Oktober 2017 pagi kami pergi ke Rumah Sakit di kota untuk periksa. Beliau pun sudah tidak terlalu banyak bicara, sudah tak mampu berjalan, Budhe harus digendong 2 orang untuk sampai ke mobil. Budhe terlihat lemas dan tak ada semangat. Saat itu entah kenapa saya ingin menangis saat melihat wajah Budhe. Padahal biasanya tak sesedih itu. Saya pun bilang ke adik saya, dan ternyata adik saya pun merasakan hal yang sama.

Selama perjalanan ke Rumah sakit pun beliau hanya diam, mungkin sudah sangat tak karuan rasanya. Budhe itu suka ngomong, suka cerewet kalau apa yang dia perintah tak segera dilakukan atau tak sesuai dengan keinginannya. Tapi kala itu beliau terlihat lemas dan lebih banyak diam. Nafas beliau pun terlihat lebih memburu daripada biasanya, saya yang melihat pun merasa sesak juga.

Saat kembali di rumah, beliau kesulitan bernafas. Dan mengeluh "Kenapa masih sesak, biasanya cuma sebentar". Selama ini Budhe sakit tak pernah sekalipun terdengar beliau mengeluh atau merintih kesakitan, tapi kala itu Beliau mengeluh dan sayangnya saya tidak terlalu merespon, saya hanya menganggap itu sesak yang biasanya.

Saat itu Budhe minta minum air es, padahal Beliau tidak pernah minum air es, tapi tak lama kemudian Beliau minta air panas, lalu minta dikupaskan melon. Saya turuti kemauan beliau tanpa berpikir apa pun karena pada saat itu vertigo saya sedang kambuh, jadi saya melakukan permintaau Beliau pun dengan sedikit kesal. Itu yang saya sesali sampai sekarang, kenapa waktu itu tidak menyadarinya, tidak bisa melayani dengan baik. 

Kenapa waktu itu saya mementingkan untuk mengistirahatkan diri sendiri tapi tidak mengindahkan budhe yang sedang merasakan sakit? Jika mengingat itu, sungguh penyesalan selalu datang terlambat. Meskipun saya yang merawat beliau, memandikan beliau, membersihkan kotoran beliau, dll tetap saja itu tidak cukup untuk membalas apa yang telah Budhe lakukan selama ini membesarkan saya dan adik saya, merawat kami, mendidik kami, melebihi Ibu kandung kami sendiri.

Sekarang tak ada lagi sosoknya yang selalu duduk di kursi ruang tamu, meminta untuk diselimuti, memerintah tanpa henti, cerewet, masakan beliau adalah masakan favorit saya. Saya belajar memasak dari beliau, kini tak ada lagi yang biasa duduk di dapur melihat saya memasak dan memberi instruksi. dan terakhir Budhe menemani saya di dapur saya malah kesal, karena beliau memberi instruksi yang sudah saya tau berkali-kali. Sungguh saya sangat menyesalinya.

Andai waktu bisa diulang kembali, saya ingin memperbaiki semuanya, saya ingin merawat beliau lebih baik lagi. Saya ingin mendengar omelan beliau lagi. 

Sekarang kau tak lagi merasakan sakit, sekarang kau telah bahagia disana, kami pun harus ikhlas, karena sesungguhnya rencana Allah SWT adalah yang terbaik.

Allah lebih sayang engkau, Allah telah menyiapkan tempat terindah untuk kau tinggali
Selamat jalan Budhe, Kau akan selalu di hati kami
We all love you, forgive me for not being a good kid for you
Even though we can't see you anymore, you will always in my heart

2 comments:

  1. Great blog, but I don't really get what you wrote since its not in English. Switching to English will help you in a lot of ways and you will start getting more visitors.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for your concern. Now so many people who suggest me to translate my blog in english, I Really consider to doing it. Ah really thank you

      Delete